Kamis, 01 Desember 2011

Cita-cita Sang Pemimpin Dari Manusela

Dusun Manusela yang berada di Pulau Seram, Maluku Tengah optimis untuk ciptakan pemimpin masa depan, tampak sejumlah siswa Sekolah Dasar YPPK Manusela optimis untuk meraih cita-citanya. Meskipun bermodal alat tulis seadanya dan minimnya fasilitas belajar mengajar.

Di sekolah ini pula hanya terdapat satu orang guru dan tidak ada sekolah lanjutan seperti SMP dan SMA. Bahkan siswa kelas VI harus mengikuti ujian nasional di kecamatan Masohi, yang jaraknya puluhan kilometer dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama tiga hari menuju desa Moso. Kemudian menyebrang pulau dengan perahu kecil dengan tarif Rp 20.000 /orang.

Ironis memang, namun mereka tidak bisa berbuat banyak. Demi cita-cita perjalanan panjang menembus hutan harus dilewati. Mungkin timbul pertanyaan besar dalam benak anak-anak polos ini, Siapa yang bertanggung jawab terhadap cita-cita kami ?

Harapan terbesar mereka hanya bisa membaca dan menulis, karena ini menjadi kunci untuk melihat jendela dunia. Sayangnya harapan untuk anak-anak ini terhambat dari pengaruh ekonomi sosial para orang tua, mengingat Dusun Manusela yang jauh dari keramaian tidak bisa memutar roda perekonomian dari hasil kebun dan tanaman lainnya.

Hal ini membuat para orang tua harus berfikir dua kali untuk melanjutkan tingkat pendidikan anaknya. Yuli Lilihata (29) selaku guru sekolah satu-satunya mengatakan, kebanyakan para orang tua tidak mampu untuk melanjutkan sekolah anaknya, karena mereka pun tidak ada pemasukan uang. Biar hasil panen Cengkeh, Kasbi (umbi-umbian) dan budidaya Anggrek hutan Manusela tidak bisa dijual. Selain jarak yang jauh ke Moso dan Tehoro hasil yang diterima pun tidak seberapa, hasil panen untuk keperluan makan sehari-hari saja.

"Ada juga beberapa orang tua yang mampu menyekolahkan anaknya hingga ketingkat SMP dan SMA dengan menitipkam n ke family yang ada di kota Ambon, tapi kebanyakan tidak kembali lagi ke Manusela. Sehingga dusun ini selalu kekurangan tenaga ahli yang bisa diharapkan". Tambah Yuli bercerita.

Potret buram pendidikan yang ada di dusun Manusela hanya sebagian kecil dari seluruh sekolah yang berada di daerah pedalaman Indonesia. Keterbatasan fasilitas, sumber daya tenaga didik dan rendahnya sosial ekonomi stasus masyarakat menjadi hambatan. Peran pemerintah dan masyarakat yang peduli terhadap pendidikan sangat dibutuhkan dalam menunjang Indonesia lebih maju.

1 komentar:

  1. Halo, saya Isnan dari belajarsedekah.com

    Kami memiliki program pengadaan buku untuk taman bacaan di Sugapa, Intan Jaya Papua bekerjasama dengan KKN UGM. Nah saya meminta izin untuk memakai foto2 anda diatas untuk keperluan poster donasi. Akan kami cantumkan sumbernya.
    Kami mohon untuk kerjasamanya.

    Terima kasih :)

    BalasHapus