Tidak seperti kebanyakan gedung pementasan seni lainnya di kota-kota besar yang menampilkan nuansa elegan dengan berbagai macam pernak-pernik didalamnya. Panggung pementsan wayang orang yang berada di Jl. Slamet Riyadi, Desa Laweyan, Surakarta yang dibuat oleh kasultanan Paku Buwono ke X pada tahun 1907 tetap mempertahankan ciri kesederhanaan dan konsistensi seni Tanah Jawa meski tergerus arus modernisasi.
Mulanya, ruang teater yang dapat menampung 700 penonton sengaja dibangun sebagai tempat berkumpulnya seniman jawa untuk menuangkan segala bentuk apresiasi dan hasil karya. Salah satunya adalah kesenian wayang orang yang pernah merasakan masa keemasan sekitar than 1990-an.

Uniknya dalam pementasannya, lakon dan cerita yang perankan selalu berganti-ganti menurut penangggalan Jawa yakni,Pon,Wage, Kliwon, Legi, Pahing. Hal ini dimaksudkan agar penonton tidak bosan dengan tema cerita yang dibawakan. Selain itu, selama pertunjukan penonton bebas menempati tempat duduk dan tidak ada perlakuan VIP.

Namun siapa sangka gedung pementasan yang sudah berusia 101 tahun ini mulai ditinggalkan dan tidak lagi dipandang sebagai primadona hiburan rakyat. Terlihat pada setiap jdwal pementasan yakni pada hri Senin, Rabu dan jumat malam banyak para orang tua yang sudah lanjut usia datang kembali ketempat ini, sekedar ingin bernostalgia dan sedikit sekali muda-mudi terlihat.

Seiring dengan perkembangan modernisasi, kesenin wayang orang secara perlahan ditinggalkan oleh penggemarnya dan para pemainnya yang sudah tidak bisa melakoni tokoh pewayangan karena sudah lanjut usia bahkan ada yang belum sempat mendapat penggantinya hingga akhirnya meninggal dunia.
Masyarakat, khususnya generasi muda saat ini sudah enggan untuk mencintai hasil kebudayaan dan kesenian bngsanya sendiri. Banyak yang tidak peduli dan acuh begitu saja. Hanya segelintir saja yang mau peduli itupun hanya sebatas penelitian atau sekedarnya.
Meski demikian, para seniman wayang orang di taman hiburan rakyat Sriwedari tidak mau terus menerus mengalah dengan modernissi yang menggerogoti warisan budaya Indonesia, bahkan pihak Kraton Surakarta dan pengelola semakin giat mengabdikan dirinya untuk kesenian yang kaya sarat makna cerita kehidupan, menjunjung tinggi kearifan lokal masyarakat Jawa yang tekun, santun, ramah-tamah dalam bersikap dan berbicara. (dharma)