Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Desember 2011

Merah Putih di Manusela

Tanpa pembacaan Pancasila, pemimpin upacara, hingga peserta upacara. Merah Putih tetap berkibar diujung tiang. Meski ritual pengibaran bendera ini tidak sesakral seperti di Istana Negara, namun nasionalisme dan kecintaan terhadap negri ini tetap tumbuh dihati anak-anak Sekolah Dasar YPPK Manusela, Pulau Seram, Maluku Tengah.

Seperti biasa, Senin pagi pukul 06.00WITA dilakukan pengibaran bendera merah putih yang berada dihalaman sekolah, kali ini Billy dan Sarfon kebagian giliran sebagai pengibar bendera. Tidak ada yang istimewa dari pengibaran ini, tanpa seragam paskibraka dan pemimpin pengibar bendera.

Dua anak polos dengan rambut plontos ini tidak tahu bagaimana detail prosesi pengibaran bendera, yang mereka tahu Merah Putih harus berada puncaknya setiap hari Senin pagi sebagai tanda aktivitas sekolah dimuali dan diturunkan Sabtu siang ketika jam pelajaran terakhir usai.

Tidak ada yang mengajarkan mereka bagaimana susunan upacara bendera, maklum saja di sekolah hanya ada satu guru yang mengajar enam kelas sekaligus. Wajar jika 60 muridnya kebanyakan tidak tahu bagaimana prosesi pengibaran bendera Sang saka Merah Putih secara baik.

Fenomena seperti ini sangat bertolak belakang dengan kabar di media massa yang membeitakan tentang pelarangan pengibaran bendera merah putih karena di anggap Musrik yang dilakukan dua sekolah di Karang Anyar, Jawa Tengah. Ironisnya sekolah berada ditengah hiruk pikuk kemajuan teknologi.

Sedangkan jauh melintasi pulau dan berada di pedalaman Taman Nasional Manusela, Pulau Seram, Maluku, Anak-anak Manusela merasa yakin kalau pengibaran bendera merah putih sebagai sebuah kebanggan bak pahlawan nasional. Seperti yang diajarkan Yuli Lilihata guru satu-satunya disekolah ini, terhadap sikap nasionalisme dan pahlawan disalah satu pelajaran sekolah.

Cita-cita Sang Pemimpin Dari Manusela

Dusun Manusela yang berada di Pulau Seram, Maluku Tengah optimis untuk ciptakan pemimpin masa depan, tampak sejumlah siswa Sekolah Dasar YPPK Manusela optimis untuk meraih cita-citanya. Meskipun bermodal alat tulis seadanya dan minimnya fasilitas belajar mengajar.

Di sekolah ini pula hanya terdapat satu orang guru dan tidak ada sekolah lanjutan seperti SMP dan SMA. Bahkan siswa kelas VI harus mengikuti ujian nasional di kecamatan Masohi, yang jaraknya puluhan kilometer dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama tiga hari menuju desa Moso. Kemudian menyebrang pulau dengan perahu kecil dengan tarif Rp 20.000 /orang.

Ironis memang, namun mereka tidak bisa berbuat banyak. Demi cita-cita perjalanan panjang menembus hutan harus dilewati. Mungkin timbul pertanyaan besar dalam benak anak-anak polos ini, Siapa yang bertanggung jawab terhadap cita-cita kami ?

Harapan terbesar mereka hanya bisa membaca dan menulis, karena ini menjadi kunci untuk melihat jendela dunia. Sayangnya harapan untuk anak-anak ini terhambat dari pengaruh ekonomi sosial para orang tua, mengingat Dusun Manusela yang jauh dari keramaian tidak bisa memutar roda perekonomian dari hasil kebun dan tanaman lainnya.

Hal ini membuat para orang tua harus berfikir dua kali untuk melanjutkan tingkat pendidikan anaknya. Yuli Lilihata (29) selaku guru sekolah satu-satunya mengatakan, kebanyakan para orang tua tidak mampu untuk melanjutkan sekolah anaknya, karena mereka pun tidak ada pemasukan uang. Biar hasil panen Cengkeh, Kasbi (umbi-umbian) dan budidaya Anggrek hutan Manusela tidak bisa dijual. Selain jarak yang jauh ke Moso dan Tehoro hasil yang diterima pun tidak seberapa, hasil panen untuk keperluan makan sehari-hari saja.

"Ada juga beberapa orang tua yang mampu menyekolahkan anaknya hingga ketingkat SMP dan SMA dengan menitipkam n ke family yang ada di kota Ambon, tapi kebanyakan tidak kembali lagi ke Manusela. Sehingga dusun ini selalu kekurangan tenaga ahli yang bisa diharapkan". Tambah Yuli bercerita.

Potret buram pendidikan yang ada di dusun Manusela hanya sebagian kecil dari seluruh sekolah yang berada di daerah pedalaman Indonesia. Keterbatasan fasilitas, sumber daya tenaga didik dan rendahnya sosial ekonomi stasus masyarakat menjadi hambatan. Peran pemerintah dan masyarakat yang peduli terhadap pendidikan sangat dibutuhkan dalam menunjang Indonesia lebih maju.

Minggu, 24 Juli 2011

Buku Kecil Untuk Meraih Mimpi

Berawal dari minimnya ilmu pengetahuan dan lahan pertanian tidak terurus, sekelompok pemuda yang mengtasnamakan dirinya Saung Pemuda dari desa Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten berusaha mewujudkan kampung halamannya dengan membuat perpustakaan mini guna melek ilmu pengetahun.

Gagasan untuk membuat perpustakaan ini dilandasi atas dasar kurangnya perhatian pemerintah terhadap fasilitas pendidikan dan dari tenaga ahli dalam hal ilmu pengetahun dan teknologi. Tidak hanya itu saja, mayoritas para remaja setempat yang sudah menyelesaikan pendidikan banyak yang pergi begitu saja dan meninggalkan kampung halaman tercinta, guna memilih hidup di kota besar untuk mengais rezeki. Tentuny ilmu yang didapat selama mengeyam bangku pendidikan ketika di sekolah, ilmu yang didapat menjadi sia-sia dan tidak bisa diterapkan dimasyarakat.

Meski, Desa Cibeber merupakan daerah yang kaya akan sumber daya alam hayati, mulai dari hutan, sawah dan berbagai macam jenis pertanian yang bisa dikembangkan. Seiring dengan kepergian para remaja, lahan subur itu kemudian berubah menjadi lahan yang tidak terawatt. Hanya sebagian kecil saja yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menjalakan roda perekonomian dengan cara bertani.

Tekad untuk membuat perpustakaan di kampung halaman tercinta bukanlah hal mudah dan tidak semudah membalikan telapak tangan. Banyak hambatan dan menemui perdebatan panjang, mulai dari penyediaan tempat, izin kepala desa dan banyak hal lainnya yang bersifat meragukan dari masyarakat desa.

Berkat tekad kuat dan ketekunan, Saung Pemuda mulai menggerakan langkah pertamanya dengan mengkoordinir para remaja yang merantau di Jakarta sebagai motor penggerak dalam mewujudkan perpustakaan. yakni dengan membuat iuran Rp. 10.000 untuk setiap orang dan ditarik satu bulan sekali guna keperluaan pengadaan buku.

Ironisnya, harga buku pelajaran semakin melonjak tinggi, hingga hal ini membuat dana iuran tidak cukup untuk membeli buku-buku pelajaran yang berkualitas. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat pejuang ilmu pengetahan untuk mewujudkan komitmennya. Bahkan menjadi pemacu semangat untuk pembuatan ruang ilmu pengetahuan.

Seiring dengan berjalannya waktu, Saung Pemuda menjalin kerjasama dengan Delapan Penjuru, yakni sebuah komunitas petualang yang mendedikasikan kegiatannya untuk mencerdaskan bangsa. Meski bukan kominitas besar, namun tekad dan semangat untuk membuat pendidikan bagi anak-anak pelosok di Indonesia menjadi lebih baik.

Tidak kurang, bahkan lebih dari 1.200 buku layak pakai (bekas) dapat tersalurkan dan dimanfaatkan oleh anak-anak yang berada di daerah perbukitan desa Cibeber. Tanpa biaya yang besar dan memiliki semangat kuat, buku pelajaran yang terdiri dari bebagai ilmu pengetahuan sampai ditujuan, meski harus menempuh jarak ratusan kilometer dari Jakarta.

Niat untuk membangun perpustakaan mini ini merupakan sebuah prestasi yang membanggakan bagi Saung Pemuda dan Delapan Penjuru dalam hal mencerdaskan anak-anak desa pedalaman dibidang pendidikan. Dengan harapan kedepan, anak-anak desa yang tumbuh menjadi remaja tidak perlu lagi mengais rezeki ditanah orang lain, melainkan membaktikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat dan menjadi tuan rumah di kampung halaman tercinta.(dharma)

Senin, 28 Februari 2011

Secercah Pendidikan Dibalik Eksotisme Gunung Pancar

BOGOR, Jawa Barat – Berdiri di lahan bebatuan seluas 1200 Meter Persegi, membuat SMP Pancar Bhakti yang terletak di lembah Gunung Pancar,Kabupaten Bogor tak urungkan niatnya mewujudkan impian kesejahteraan pendidikan bagi anak-anak desa yang mayoritas dibawah garis kemiskinan.

Sekolah yang berdiri sejak tahun 2007 lalu, Namun antusias orang tua dan semangat belajar anak – anak SMP Pancar Bakti, desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Bogor makin menunjukan keinginan berprestasi. Meski dengan minimnya buku dan alat mengajar, tidak tergambar keluh kesah para siswa dalam menimba ilmu pengetahuan.
Bahkan untuk memenuhi dahaga dalam berprestasi, Haji Ujang, selaku kepala Yayasan Pancar Bakhti Prihatin rela menyisihkan sebagian hasil panen padinya untuk membuat perpustakaan dan membeli kaos sepak bola untuk anak didiknya.

Bersama anaknya, Solihin selaku pemengang keaungan dan Jaunuri yang menjabat kepala sekolah dan juga merangkap sebagai guru, rela turun gunung untuk antar jemput para guru untuk mengajar.
Hal ini mereka lakukan atas dasar kepedulian terhadap kondisi pendidikan yang memprihatinkan di sekitar kawan Gunung Pancar. “Keprihatinan saya terhadap minimnya fasilitas pendidikan muncul ketika melihat anak-anak tetanggga, taraf pendidikannya hanya sampai ditingkat Sekolah Dasar. Bahkan untuk melanjutkan ketingkat SMP mereka harus turun gunung dan menempuh jarak sekitar 20 kilometer naik ojek motor untuk sekolah”. Jelas Hj Ujang, saat bercerita di teras rumahnya.

“Untuk satu kali naik ojek saja, biasanya satu anak bisa menghabiskan Rp. 15.000 dalam sehari. Tentu saja hal ini memberatkan para orang tua untuk melanjutkan sekolah anaknya”. Tambah Hj. Ujang.
Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan Hj Ujang bersama kesepuluh anaknya mulai mendapat bantuan dana dari dinas penddikan kabupaten bogor sejumlah 3,5 juta pertahun. Dana tersebut digunakan untuk membeli kapur tulis dan perawatan sekolah.
Sedangkan untuk guru sendiri, Hj Ujang memberikan uang transport sebesar Rp 350.000 setiap bulannya yang didapat dari hasil pertanian dan penjualan tanaman hias. “Pemberian dana tersebut juga tidak mesti lancar setiap bulannya, tergantung hasil panen”. Tambah Hj Ujang.

Kepedulian terhadap dunia pendidikan yang dilakukan Hj Ujang dan anaknya, dimulai ketika ada investor yang membangun tempat pariwisata dan tempat penginapan di kawasan gunung pancar yang terkenal dengan telaga air panas.
Ironisnya tidak ada satupun masyarakat desa yang menjadi pekerja di sana. Bahkan pekerjanya sendiri sengaja didatangkan dari Jakarta dan Cibinong. Dengan alasan, masyarakat desa tidak membaca dan tidak mampu dalam mengelola tempat pariwisata tersebut.
Tentunya hal ini seperti cambukan keras bagi hj Ujang. Tak ingin berlarut-larut dalam kesengsaraan tersebut, dirinya berusaha membangun sekolah bagi anak-anak di desanya. Agar kedepanya siswa tersebut bisa memberikan sesuatu bagi desanya sendiri.
Hj ujang bersama anaknya terus berusaha dalam mengembangkan sekolah dan mutu pendidikan di tanah kelahirannya, hal ini agar para investor asing tidak terus menerus menjajah masyarakat desa karena tidak makan bangku pendidikan. (dharma)